DIRA, KETUKLAH PINTUKU
Dira, ketuklah pintuku bersama musim bunga
Seperti ibu memanggilku. Lembut saja
Tak usah tergesa. Aku sudah tahu semula
Biar aku mencapai waktu dalam kelembutan kupu-kupu
Tak perlu tikaman itu. Aku sudah tahu
Ajaklah aku dengan sederhana
: Jalan itu tak lagi mencemaskanku!
Bersama musim bungamu aku kembali
2003
DIRA: SURAT SENJA
kekalahan ini cinta yang pasti
Sebagai tiang waktu menemu pantai
Tersisa bayang panjang di pasir
Camar menggaris langit, digamit senja
Pedih tak perlu menyesak, sungguh tak
Layar merapat diam: di sinilah mesti singgah
Dan kekalahan ini manis terasa
2003
DIRA: SURAT SEPI
Surat sepi menulis puncak malam. Ada yang tergesa
Dan kata yang tersisa mengendap di kekosongan gelas
Dan pintu kembali kukunci. Pertemuan usai
Tak juga aku lepas sangsi: kapan kembali?
Masih tak kumengerti surat sepimu, mengusung temaram
Prosaku terbaca sudah, melabuh mimpiku
Tak juga aku lepas sangsi: bangunkan!
2003
ANGIN ITU
angin itu yang menyemai langkah
dan selalu lahir cerita silam
kau pun selalu dinanti sunyi
angin itu yang memanggil badai
menebar gairah dalam denyut jam
dan tangan kau terkepal terbius kemenangan
angin itu yang menyapa gelisah
luruh diam daun kemboja
dan kau yang kembali tak kuasa mengelak
2001
SARANGAN 1
dan di luar selalu kelabu
hati rawan menemu
bukit-bukit basah, matahari beku
dan aku disapa untuk diam
kutanggalkan baju yang selalu menipu
dan pasti ku hanya sebutir embun
di antara pepohonan yang menggaris langit
dan selintas aku samar
pudar bersama awan-awan
2001
SARANGAN 2
Dan kau yang memanggilku dalam kabut
Melihat yang gemetar antara bunga tiga warna
Suara tak sampai merangkai pedih
Payung hitam memintal kelam
Dan yang tersedu tak juga rela
Menutup buku yang usai dibaca
2001
SARANGAN 3
Kau bahasakan penantianmu
Dalam napas waktu yang basah
Gairah kau tanam bersama semaian di ladang
Parit-parit di darahmu terus menderas
Setiamu pada matahari selalu kauwarnai
2001
SARANGAN 4
masih saja rindu
jalur-jalur mendaki
dan di puncak lawu
aku pun hanya suara
gerimis menyisir dedaunan
memastikan kehadiranmu
2001
SARANGAN 5
dira, masih saja berlagu
dan sambil lalu menertawaiku
di luar: bulan melayari kerawanan tidurku
akankan pagi menemu
dan dira terus berlagu
bersama peronda yang membakar sepi di ujung abu
juga langkah-langkah yang sendiri
di dalam: aku semakin larut
belum juga kumaknai lagumu
2001
CATATAN SENJA
gairah purba yang membakar
ranjang selalu kembali sia-sia
: aku masih ingin menggambar
keangkuhan itu tak juga hilang
mencibir dira dalam dalam kerudung kabut
dan aku masih sibuk berkata-kata
menipu kehadiran yang selintas
yang kan berhenti sebelum lambai
dira memanggil sayup
gairah purbaku kian kuyub
dalam waktu yang menyulur
pada tepi senja sampai
2001
DIRA, SENJA ITU
dira dalam keredupan pandangmu
terbaca jalan ibu yang kembali senja itu
dengan segaris senyum dan menagihku
: mana selamat jalan untukku?
aku kian kelu dalam kebekuan waktu
dan sia-sia kecewa, semua sudah lalu
: ibu, inikah penebusanku?
2001
DIRA, GELISAHKU
dira, gelisahku dalam ruang samar
saatnya lalu menggamit lenganku
kembara di kota-kota yang hilang
tersisa cuma nama-nama
terbaca terbata-bata
dira tertulis entah
tak juga kabar
dan pertanyaan itu selalu menerka
: masihkah dia punya cerita?
aku pun getir dan merapuh
2001
DIRA, KATA-KATA
dira: hanya kata-kata
bagi ketika yang segera senja
dan daun-daun tinggalkan cuaca
di ruang lahir petualang
dira: tanda tersisa
kayu merapuh usia
dan bulan tembaga garis cahaya
di sudut kelam aku berkaca
2001
MEMBACA BAHASA DIRA
dira bahasa lembar-lembar bunga yang dibawa angin desember lalu dicatat seorang padri dan ditebar pada mata-mata hampa yang rindu akan, “bacalah bahasa sungai yang membawa pedih, gelisah, dan mimpi, lalu pasti direngkuh samudra.”
dira bahasa lembar-lembar bunga yang dewasa dalam rengkuhan musim, juga keibuan kupu-kupu lalu ranum buah dan musafir menemu cinta. “aku telah membaca. dan hanya hati yang kuasa memaknai,” kata seorang padri sembari menjabat erat tanganku
2001
SEIAMBAWANG 1
suaramu yang lambai dalam kelam yang sangsi
membawa bayang-bayang pucuk-pucuk sagu
di akar-akar bakau berayun-ayun hatiku
tenggelam dalam dasar sungai
mencari-cari yang selalu lepas dalam kenangan
malam terasa mendesak, semua mengabur dalam
di sepanjang sungai masih saja yang hendak pergi
aku sibuk menerka lambaianmu di tambatan
: beri lampu, lalu waktu terasa beban
dan lentikan api, gumam tertahan
sesekali mengatasi rindu menepi
2001
SEIAMBAWANG 2
Dan tinggal kelam, masih samar yang kugambar
Di depan: bayangan air tak juga memberi jawaban
Semua larut dalam masing-masing kerinduan
Yang kudapat wajah-wajah penat, ingin segera kembali
Bulan tak juga sampai, ku hanya bisa berdebar
Di mana, suara itu membawa nyeri
Rasanya bekal yang kubawa ada yang tertinggal
Padahal sauh kan segera ditambat
November 2001
SEIAMBAWANG 3
“sudah sampai,” aku terkesiap menatap diri
dan jejak di belakang masih juga remang
tak kuyakin masihkah lampu bagi anak-anakku
kupasang selalu saat ku menemuimu pada batas malam
November 2001
DI SEBUAH HOTEL, SINGKAWANG
pulang saja: yang kaucari hampa selalu
dan tawa itu cuma getir yang lama
kauperam di kolam jiwamu
pasti: bulan itu lebih setia dari keisengan
yang kau labuh di muara malam
perahu hatimu yang retak
dan kau kembali terasing
akan kelembutan bintang
Oktober 2001
SINGKAWANG, SUATU MALAM
tak perlu berhadapan, biar embun berbincang
pada aspal jalanan. di situ terbaca rinduku
dan aku masih tak mampu berdamai
dengan suara-suara yang memanggil-manggil matahari
“ini buku tamu…” ku hanya kelu
kutulis namaku, usai lalu
tak perlu mengaduh, segelas kopi nikmati
jangan sampai dingin, lalu pergi
Oktober 2001
STANZA PONTIANAK
masih ragu: bagaimana bahasa sibukmu
matahari kemarin, menyisakan debu
dan rawan terus berkecambah di mata anak-anak
yang menjulur di balik pintu-pintu
masihkah hujan membawa sisa musim semi
masihkah tanya pada semula
lalu semua menjenguk di ke dalaman hati
: kedalaman langit ada wangi melati
November 2001
STANZA SEIPENYU
disini: aku menata kembali
usai menyusu pada cakrawala, reda hausku
air yang meriak di pantai itu
mengapungkan rinduku,
jemari sepi siap menjumputnya
nelayan segera membersihkan jala
seperti biasa angin pun lelap
dan jam mendesakku segera berangkat
Desember 2001
DI KELUARGA DJOKO KUSUMOWIDAGDO
jakarta: matahari selalu melecut punggung waktu. pergulatan,
kembali kau terusir, melata serupa ular yang selalu berdesis
di antara lipatan hati dan darahmu. tak cukup bagiku untuk tertipu
di beranda: aku larut saja dalam dongeng-dongeng sederhana.
cericit burung gereja yang menggaris pagi, mereda geramku
bagi yang di luar jendela. pada lukisan cinta ibu mewarna ungu
dan jakarta tinggal etalase, biar aku tetap dalam jemu
Desember 2001
JAKARTA: SUATU MALAM
ada yang getir, pasti kau
dan muka kayumu terus mencibir
saat ku menari dalam irama sake
jarak semakin memisah
kau pasti menggigil, merebut malam
dan pagi selalu berujung belati
“inilah keadilan?” muka kayumu menamparku
di piring nanah korengmu, menggelepar aku
lampu-lampu, juga dingin dinding yang menuding
selalu pedih, sungguh bukan kotaku
Desember 2001
TEBEDU, SERAWAK, MALAYSIA: SEBUAH CATATAN
“surat-surat….” hanya musafir aku
masih saja dan kuyakin kau tak menagihku, rinduku
catatan tentangku telah kau baca sebelum aku
mengenal nama-nama, juga cinta ibu
rinduku, ku hanya ingin mengerti kanvasmu, itu kau tahu
hijau cintamu selalu basah antara dedaunan juga senyum yang lalu
“surat-surat….” inikah kemanusianku
kuyakin kau tak menagihku begitu
pasti: kutak mampu sembunyi, rinduku
Desember 2001
CATATAN PAGI DI ENTIKONG
tambur bulan melagu, menyusup di celah malam
: masih menunggu, segera semua melepas mata
di belakang tak terukur jalan semula
kenangan entah yang sempat singgah
sampai ini batas, kemudian tak terduga
dan kau, rinduku: cukupkah tanda kubawa
: cuma nama, alamat, dan angka-angka
selebihnya salam, yang pernah kubaca
di buku harianmu. selebihnya angan….
tambur bulan melagu, menyusup di celah malam
dan kau, rinduku: masih berkata-kata
selimut kabut membungkus gelisahku
: batas ini berujung belum, terus berjalan
Desember 2001