ANTOLOGI

KEYAKINANKU

 

 

Keyakinanku padang yang luas

Tempat bagi para gembala melepas lelah

Sambil mendendangkan lagu rumput,

Juga kupu-kupu yang mengecap madu.

 

Keyakinanmu sejengkal tanah

Tempat berpijak dalam kendangkalan

Sebagai bocah kecil kau merasa paling benar

Dan dadamu selalu membusung saat bertemu

Dengan mereka yang tak sejalan

 

Keyakinanku seteguk air

Yang mengalir bersama pagi

Dan segera tercipta muara

Reda gelisah kemarau panjang

Mereka memandangku dengan penuh cinta

Dan merengkuhku dalam nyanyian mawar

 

Keyakinanku tanah berhumus

Tempat bagi bunga-bunga dan pepohonan

Bercengkerama dengan angin, juga

Menebar benih yang kan berbuah

Pada cuaca yang bersih,penuh senyuman

 

 

 

Februari 2000

 

 

CERITA DI PENGADILAN

 

Sungguh saya tidak mencuri, kata terdakwa

Dengan suara mengiba serupa anak-anak

Yang memaksa ibunya agar dibelikan gula-gula

Saya hanya diberi kesempatan dan diresmikan

Dengan surat-surat keputusan, suara datar

Mengalir di antara palu, kitab undang-undang,

Bendera-bendera, juga bangku-bangku

 

Ada geram tertahan mengapung di udara

Mengeras muka tak sampai pada yang terdamba

Tak terelakkan satu per satu membahasakan

Pikir dan rasa, palu diketuk keras berusaha

Mengatasi keliaran

 

Saudara-saudara, ini pengadilan, bukan pasar

Harap saudara bisa mengendalikan perasaan, kata hakim

Sambil membetulkan letak kacamatanya, ketegangan

Terbaca lewat kerut dahi, juga muka yang basah

 

Panggil saksi, perintah hakim membuang gelisah

 

Benar, dia bukan pencuri, kata saksi setelah

 Bersumpah atas nama kepercayaan dan keyakinan

Suaranya semanis jagung bermentega

Dia hanya mengikuti arus, yang dideraskan

Beratus-ratus, bahkan beribu-ribu kaki, tangan,

Jantung, hati, perut, darah, dan otak

Dia berputar dalam lingkaran, tapi

Bukan lingkaran itu sendiri

Dia tidak menciptakan keserakahan, tapi

Diciptakan oleh keserakahan

 

Cukup, saudara saksi, kata penuntut umum

Saudara tidak diperkenankan menyampaikan kesimpulan

Dalih-dalih yang sudara sampaikan

Seakan menggiring pada satu muara

: kita adalah pencuri itu sendiri,

bukan terdakwa ini!

 

Serentak semua terdiam, jam berdetak lamban

Terasa sesak untuk bernapas, wajah-wajah

Terpaku di dingin lantai, labirin ini

Tak tentu ujungnya

 

Saudara-saudara, sidang ini ditunda

Lima tahun lagi, hakim bersuara

Dengan penuh beban

 

September 1999

 

PENDIDIKAN BUKANLAH….

 

Pendidikan bukanlah cambuk

Yang siap dilecutkan pada

Harimau, gajah, dan kuda

Dalam arena sirkus dan hiburan

 

Pendidikan bukanlah pistol

Yang siap ditembakkan

Pada kepa pesakitan

Hingga mengerang dan

Mengiba ketakutan

 

Pendidikan bukanlah satpam

Yang siap menghardik dengan kejam

Peminta-minta dan orang tak dikenal

 

Tetapi,

Pendidikan adalah pintu

Yang membuka cakrawala pikiran

Agar diterangi pengetahuan

Juga kebajikan

 

Pendidikan  adalah tangan ibu

Yang penuh kasih menuntun

Dan mengajak kita

Agar mampu berdiri dan berjalan

Dengan penuh kepercayaan

 

Pendidikan adalah sepercik embun

senantiasa menyejukkan setiap hati

yang gersang tak berpengharapan

 

Pendidikan adalah matahari

Juga kelembutan cahya bulan

Yang selalu setia menerangi kegelapan

Juga meneduhi keputusasaan jiwa

 

 

 

Agustus 1999

 

 

 

APAKAH AGAMAMU, TANYAMU

 

Apakah agamamu, tanyamu

Aku takkan menjawab

Kalau hanya melahirkan perdebatan,

Kebencian, dan kecurigaan

 

Apakah agamamu, desakmu

Masihkan perlu kautanyakan, kataku

Jika aku-kamu berawal dari nafas yang sama

Jika aku-kamu tersungkur pada akhirnya

Aku lebih mencintai hati dan bahasa ibu

Juga mata anak-anak yang jernih

Yang memberi telaga kedamaian

Bagi semua yang menatapnya

 

Dan mengapa kamu masih bertanya

Bukankah jabat tangan dan secercah senyuman

Lebih bermakna kau suguhkan

Dalam piring dan gelas di atas meja persaudaraan

 

Diam saja, renungi angin yang melintas

Dan gemersik daun-daun yang bersentuhan

Begitu dalam, sangat dalam

Perdebatan ini sungguh sia-sia

 

 

 

 

 

September 1999

 

 

 

KIBARKAN BENDERA SETENGAH TIANG

 

 

 

kibarkan bendera setengah tiang

saat anak-anak lahir dalam kebimbangan

menghambur di jalan, melempar kemarahan

-          mereka tak tahu jalan pulang

semua cinta di rumah meranggas

ruang jiwa berdebu kehabisan cahaya –

 

kibarkan bendera setengah tiang

saat tangan-tangan penguasa tak punya makna

terkulai di ruang-ruang tak berdaya

suara-suara di luar mengepungnya

suara-suara di luar tak beraturan gaungnya

-          beri kami cermin yang pasti

biar selembar hati ini terjaga keheningannya –

 

kibarkan bendera setengah tiang

sambil mengarak keranda di sepanjang jam

saat semua terselubung tirai hitam

-          di mana kegelisahan diredakan

dan denyut tinggal dituai pada musimnya –

 

 

 

 

September 1999

 

 

 

PELAJARAN BAHASA TUHAN

 

 

 

masih saja bahasa Tuhan hanya

dijelmakan dalam pakaian, lilin,

buku-buku,gedung, dan doa-doa

kita pun berubah menjadi arca

yang terbuai keindahan

membius berpasang-pasang mata

tak kuasa menjadi hujan

di ujung kemarau yang membawa

hangat pisang goreng dan segelas kopi

dalam perbincangan sederhana

 

ya, ya bahasa Tuhan hanya

ditafsirkan sebagai surat sang pacar

serta merta lahir gelisah dan cemas

jerawat ini harus diapakan

rambut ini harus diapakan

bibir ini harus diapakan

sebatas wajah inikah pemahaman

dan kau pun tak leluasa

menggerakkan pikir dan rasa

seperti burung-burung yang menjadi dewasa

dalam asuhan angin, matahari, dan hujan

 

dan kau pun terpasung dalam

keyakinan yang berlebihan

terbangun dinding yang membatasi diri

sekedar menyapa dan tersenyum

sebagai sesama pengembara

yang kan kembali ke tanah semula

 

dengarkan dengan diam bahasa Tuhan

pahami dalam keheningan dan

kebeningan jiwa

keangkuhan inilah yang memisahkan kita

dan masihkah kita manusia?

 

 

 

 

Oktober 1999

 

TUHAN, ULURKAN TANGANMU

 

Tuhan, ulurkan tanganmu

Agar terbuka semua pintu

Yang dirimbuni semak berduri

Dan kehadiranmu hanya terpahami

Sepintas lalu, tak sampai mekar di hati

 

Mereka bangun dinding berbatu

Atas keyakinan, sambil berteriak:

“Aku yang paling mengerti bahasa Tuhan.”

Dan tangan-tangan tak bisa bersinggungan

Dengan mesra dan sederhana

Sambil berkaca bersama:

“Inilah wajah kelana

yang didera gelisah panjang.”

 

Tuhan, ulurkan tanganmu

Agar terbuka semua mata

Hingga tak sesat dalam warna-warna

Juga suara-suara

Indah tak punya makna

Dan semua kan mengerti

Tangan lembutmu kan merengkuh

Yang datang dengan kesederhanaan

Sebagai petani yang mencintai bumi

 

Tuhan, ulurkan tanganmu

 

 

 

 

 

Malang 2000

 

 

 

 

JADIKANLAH AKU

 

 

 

 

Jadikanlah aku matahari

Bila mendung mulai bergayut

Hendak mengirim badai

Bagi yang berumah di atas pasir

 

Jadikanlah aku bintang

Bila langkah kecurian arah

Dan pelabuhan-pelabuhan kematian cahaya

Saat musafir didera rindu

Berbagi cerita pada semua yang menunggu

 

Jadikanlah aku bumi

Yang sabar menerima semua

Bangkai dan harum melati

Benci dan selembar hati

Semua punya arti

Semua punya garis pasti

 

 

 

 

Oktober 1999

 

 

 

 

DUH…GUSTI, AMPUNI *

 

 

duh…gusti ampuni aku

di sekitarku masih banyak

tangan-tangan yang malu

bekerja dengan baik

mereka lebih senang menipu

segan bekerja, ingin hidup mewah

mengumbar angkara murka

menyuburkan kedurhakaan

 

perempuan-perempuan kehilangan

rasa malu

lelaki kehilangan rasa perwiranya

 

lelaki tak punya lagi lagu rindu

bagi istri dan anak di rumah

kesepian mengikis kesetiaan

banyak anak bertanya

tentang ibu dan bapaknya

 

duh…gusti ampuni aku

 

suara-suara kebenaran

terdengar sumbang di telinga

perikemanusiaan pun kian pudar

rumah suci kian disingkiri

rumah hina merajalela

perempuan jalang di mana-mana

 

ya…ya bakul dikatakan burung kuntul

orang salah dianggap betul

pengkhianat hidup penuh nikmat

pencuri dipuji-puji

orang-orang yang tahu jalan

kian terbelenggu tak berdaya

yang mulia kian terpenjara

 

dan masih ada yang mengalir tanpa muara

bahasa tuhan kian terabaikan

hujan pun turun bukan pada musimnya

di meja-meja perundingan

banyak yang mengkhianati

ilmu dan kebajikan

banyak yang mengaku-aku

di luar terlihat putih

di dalam ternyata merah dadu

mengaku suci, kesucian  basa-basi

begitu mudah membuat janji

begitu mudah mengingkari

 

duh…gusti, hukumlah aku

 

di sekitarku kedamaian tak juga bersemi

banyak laknat, banyak yang sesat

anak makan bapaknya

saudara makan saudara

kawan menjadi lawan

guru menjadi seteru

antartetangga saling curiga

tak ada lagi ruang bagi hati

untuk berbicara tentang cinta

 

orang-orang lapar berputar-putar

sebagai gasing

yang cepat akan memangsa

yang lamban akan dimangsa

yang besar akan tersesat

yang kecil tergelincir

yang congkak mendongak

yang takut kesikut

yang nekat mendapa berkat

yang rendah diri akan tertindih

yang membabi buta semakin makmur

yang berhati-hati cuma merintih

petani-petani gigit jari

para pendusta terus berpesta

 

duh…gusti, siksalah aku!

 

 

 

Malang 1999

 

 

 

 

*) diilhami oleh ramalan Djojobojo

 

SELAMAT MALAM, INDONESIA

 

 

Selamat malam Indonesia

Di atas meja aku menatapmu dengan resah

Sepiring nasi lahir dari kesabaran

Sekerat ikan asin adalah pergulatan yang mengancam

Semua terolah dari rasa keibuanmu

Bagi petani dan nelayan

Yang setia menyapa dan merengkuhmu

 

Dan mestinya kau terpahami sebagai ibu

Yang sering kudongengkan pada anak-anak

Sebelum melintasi kota-kota yang lain

Sungai-sungaimulah yang mendenyutkan jantung mereka

Ombak-ombakmulah yang menggelora di nadi mereka

Hutan-hutanmukah yang memayungi mereka

Takkan kubiarkan mereka jadi pecundang

 

Dan kau memang ibu yang bijak

Berpasang-pasang tangan

Ingin memisah-misahkan anak-anakmu

Lepas dari rengkuhanmu

Kau tetap saja tersenyum

Tak mau mengumbar kepedihan

Masih saja kaumekarkan kasihmu

Dalam bulir-bulir padi

Juga kemilau embun di pucuk-pucuk daun

 

 

Selamat malam, Indonesia

Takkan kupejamkan mata

Sebelum usai mereguk keheningan

Yang kausuguhkan antara suara-suara serangga,

Bisik angin, dan jejak langkah peronda

Aku hanya bisa tersipu

Tangan ini masih saja tak mampu

Memelukmu sambil bercerita

Saat-saat manis yang lalu

 

 

 

 

 

 

Maret 2001

 

 

 

 PEREMPUAN ITU

 

Perempuan itu terbatuk-batuk

Melintas di halaman, lalu mengetuk pintu

“Biarkan aku masuk, sesaat istirah

Setengah abad lewat

Aku menapaki waktu dengan rindu.”

 

Tangis gerimis mengikis harapan

Dan kelam dikekalkan temaran

Langit rapuh, ada yang mengaduh

Perempuan itu ya perempuan itu

 

Dengan tatapan yang lembab

Melewati jendela, sampai pada bukit

Yang samar-samar, berkabut

“Aku tak mengerti

setelah darah di deraskan

setelah ribuan pejuang ditulis dalam sejarah

dan setelah aku menyusui anak-anakmu

mengapa aku hendak kau tinggalkan.”

 

Perempuan itu tersedu

Di matanya terbayang rumah-rumah,

Anak-anak, dan hutan-hutan terbakar

Atas nama keadilan

Atas nama kemakmuran

“Permainan siapakah ini

yang terus menderaskan air mata

yang menyuburkan kekacauan

dan aku pun semakin cemas.”

 

Burung kulik-kulik terus memanggil malam

Menyemai gelisah di ujung-ujung ranjang

Langit retak,  ada yang mendesah

Perempuan itu ya perempuan itu

 

 

Dengan  tatapan yang basah

Menyusuri jengkal demi jengkal tanah

Yang sangat di kenalnya

Inilah Jawa, Sumatra, dan Irian Jaya

Yang telah menyatu dalam tubuhnya

Menjelma tangan, kaki, atau kepala

“Haruskah aku kehilangan tangan,

kaki, atau kepalaku

Jika kehadiranku sebagai ibu

Masih diperdebatkan

Dan dicurigai tak mampu

Mengasuh semuanya dalam cinta.”

 

 

Perempuan itu terbatuk-batuk lagi

Dibetulkannya letak kacamatanya

“Barangkali aku memang berlebihan

Barangkali aku yang tak mau belajar

Pada Sriwijaya, Majapahit, atau Singasari

Atau haruskan kubangunkan kembali Gajah Mada,

Muhammad Yamin, W.R. Supratman, atau Hatta

Agar ada tempat bagiku

Meredakan gelisah yang panjang.”

 

 

 

Maret 2001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAGU DAMAI

 

 

Kedamaian mengalir lewat hijau bukit

Bersama siul burung yang dicumbu angin

Lalu disemaikan pada setiap petani

Di kemilau embun yang membasah

Di antara daun-daun padi yang disapa pagi

 

Dan senyum selalu mekar

Dalam pertemuan yang sederhana

Jauh dari perdebatan sia-sia

Penuh ketulusan yang terhidang

Dalam secangkir kopi dan sepiring pisang

: Keluarga selalu sehat-sehat saja kan?

Begitulah saling mendoakan

 

Kedamaian merekah bersama sapa

Sebagai matahari yang mengusap daun-daun,

Bunga-bunga, kupu-kupu, dan tanah yang basah

Dan segera tercipta tembang di setiap ruang

Lembut mengalun mengusap jiwa

Memayungi setiap hati, tiada benci

 

Nyanyikanlah selalu tembang damai

Di setiap jam, juga setiap jejak

Agar tanganmu tak selalu ragu

Terulur bagi semua yang perlu genggaman

Dan memberi kepastian bagi yang didera pedih

 

Kedamaian terus mengalir

Bersama gemiricik air yang bening

Yang memberi harapan bagi semua

Yang lama dibayangi kemarau, juga keputusasaan

Nyaris terbantai dalam kelam

Dan tersungkur kehilangan arah

: Yakinlah, Tuhan selalu menjaga setiap hati !

 

Maret 2001

 

 

 

NYANYIAN POLITIKUS DAN BURUNG

 

 

Lagu kemakmuran mana yang kaudendangkan

Air mata masih menderas dan beribu-ribu mata kuyu

Melata di lampu-lampu merah

Terusir dari pabrik-pabrik yang sekarat

Lalu terbujur di kamar-kamar pengap

Ditimbuni harapan yang nyaris berkarat

 

Ya…ya aku mendengar merdu suaramu

Sebagai nyanyian burung

Yang digantungkan di langit-langit rumah

Atau digantang di arena-arena

Larut dalam gemuruh tepukan,

Juga sorak-sorai mereka yang larut dalam alunan suara

Dan setelah semua puas

Kau pun mendapat bendera-bendera tanda kemenangan

 

Sebagai burung kau selalu mengagumi warna bulumu

Di koran-koran dan televisi keindahanmu menjadi berita selalu

Dan kau pun tak malu-malu mencakar-cakar dan mematuk-matuk

Secara duam-diam semua yang menghadangmu

Dan kau pun semakin samar

Kau burung pengicau atau burung pemangsa

 

 

Ya…ya hanya suaramukah yang kau tebarkan

Dan bagaimana dengan ranting-ranting yang telah memberimu kenyamanan

Untuk bersarang

Juga rumput-rumput yang telah membernaskan biji-bijian

Dengan tulus sepanjang musim

Dan juga di mana terima kasihmu

Pada burung-burung lain yang tak berbulu indah dan bersuara merdu

Yang telah menyempurnakan kehadiranmu

 

Lagu keadilan mana yang kau tembangkan

Kalau semua mata dibidik kecemasan

Dan hukum berdebu di buku-buku

Tersisa keliaran yang jauh dari hati

Masihkah kau terus berkicau

Tanpa perlu memberi kepastian?

 

 

 

 

Malang, 2001

 

 

 

 

AMSAL SEBUAH POHON

 

 

 

Kita hanyalah satu pohon

Yang mengakar pada tanah leluhur

Dan minum dari telaga

Tempat adam sempurnakan luka

 

Sebagai pohon semua punya makna

Akar, batang, dahan, dan ranting

Juga daun selalu sejalan

Untuk memekarkan bunga-bunga

Dan meranumkan buah

 

Tak perlu merasa menjadi lebih:

Akulah akar aku lebih berarti

Akulah batang aku lebih berarti

Akulah dahan aku lebih berarti

Akulah ranting aku lebih berarti

Akulah daun aku lebih berarti

 

 

Masihkah kita menjadi pohon

Jika kehilangan akar, batang,

Dahan, ranting, dan daun

 

 

Sebagai pohon tak perlu berselisih

Wangikan saja bunga-bunga

Dan terperam buah yang manis

Yang melegakan semua yang dahaga

Sebagai pohon tak hanya diam

Lalu kita dirobohkan

Dan dibiarkan berlumut dan berjamur

Tanpa kenangan

 

 

 

Maret  2001

 

 

 

 SURAT UNTUK ANAK-ANAKKU

 

 

 

Anak-anakku, keprihatinanku tergambar di cakrawala

Mengelabu bersama gelisah yang dibawa gerimis

Juga burung-burung pipit yang tak lagi punya sarang

Yang selalu dibayangi kelam

 

Dan masih saja ada yang ingin membangun menara-menara

Di atas air mata dan darah yang merimba

Juga pecahan-pecahan jiwa yang kehilangan ayah dan bunda

Yang meratap-ratap, memanggil-manggil tanah kelahiran:

Ini tanahku! Ini napasku! Mengapa aku harus terpisah?

 

Anak-anakku, maafkan kerapuhan tanganku

Yang tak kuasa mengetuk pintu-pintu

Penuh dengan keinginan gelap

Yang terus membayang di setiap jejak

Dan yang kauwarisi hanyalah puing-puing

 

 

Maret  2001

 

 

 

 

 SAJAK MULUT

 

 

 

Mulutmu kecil

Sungguh kecil

Masihkah kau mengunyah semesta

Bagi laparmu

Yang tak kenyang

Kenyang

 

Mulutmu kecil

Amat kecil

Mangsa apa lagi kau

Hutan-hutan telah tandas

Ikan-ikan dilaut telah terkuras

Tanah-tanah pertanian amblas

Yang tersisa lagu lapar

Di mulut-mulut gang

Lampu-lampu merah

Bagi kenyangmu

Yang tak kenyang

Kenyang

 

 

 

2007

 

 

 

 APA YANG KAUBACA

 

 

 

Apa yang kaubaca

Saat rabun menemu samar

Dan hidangan di meja

Tidak terkoyak gigimu  yang mulai tanggal

 

Malam-malam yang beku

Terasa mencambuki tulangmu

Kulit kerutmu

Terasa dirimbuni jarum

 

Sungguh mana yang kaukekalkan

Saat sahabat dan kerabat

Sudah sampai, sudah kembali

Di depan pintu tertulis selalu:

Waktu selalu menunggu!

 

Sungguh mana yang kaubanggakan

Saat semua merapuh

Dan sayap senja merengkuhmu

Dalam siulan sunyi yang panjang

 

 

 

2007

 

 

 

 

 BUNGA DI TAMAN INI WARNA-WARNI

 

 

 

Bunga di taman ini warna-warni

Harumnya memanggil kupu-kupu

Juga petualang yang rindu hati

Rindu senyum kanak-kanak

:Begitu sederhana, begitu murni

 

Akankah warna-warni yang asri

Kauremas dalam keangkuhan

yang tersisa hanya sabana

tergambar hijau semata

sebatas inikah membaca manusiamu

 

Bunga di taman ini warna-warni

Semua mekar dalam asuhan matahari

Dan meranum buah bagi arti

Tak ada yang sia-sia, tak ada

: Pengetahuanmu tak cukup mengadili

Juru Taman itu lebih mengenali

Antara ilalang dan melati

 

 

 

 

 

2007

 

 

 

 SAKRAMENKU

 

 

Sakramenku perempuan tua yang teriak ’puk…krupuk”

Dan kaki rentanya masih mencintai hidup

Yang bertungku di kelopak matanya yang segelombang ombak

Dan aku pun terjaring cinta hidupnya yang menderas

Bersama parit-parit waktu di cekung pipinya

 

Sakramenku lelaki tua yang memainkan tambur darahnya

Bagi istri dan cucu, yang menderas dari telaga jiwanya

Lalu senyum mekar, saat kubalas dengan jabat tangan

Dan selembar cinta yang kurajut seharian

 

 

2007

 

 

 

 

LITANI INDONESIA

 

 

Indonesia siapa yang indonesia

                                Cintailah yang Cinta

Indonesia siapa yang indonesia

                                Satulah yang Satu

Indonesia, jamrud nusa

Indonesia, suaka satwa

Indonesia, muara mina

Indonesia, selendang bianglala

Indonesia, bunda mahatma

Indonesia, rimba persada

Indonesia, samudra manikam

Indonesia, intan jelita

Indonesia, adiratna

Indonesia, bunga rampai budaya

Indonesia, persada katulistiwa

Indonesia, dermaga buana

Indonesia, kusuma aksara

Indonesia, senyum semesta

Indonesia, rengkuhan bagaskara

Indonesia, pangkuan permadani

Indonesia, mahligai pertiwi

Indonesia, kecapi bidadari

Indonesia, serimpung gunung

Indonesia, ibu penjuru

Indonesia siapa yang Indonesia

                                Merdekalah yang Merdeka

Indonesia siapa yang Indonesia

                                Cerminlah dengan Tanya

Ya Sang Mahacinta, ampunilah setiap jiwa

yang tak juga merajut syukur bagi semua

sepanjang detak, sepanjang kelak

dan selalu tak juga setia

bagi CintaMu yang menderas senantiasa

 

 

 

 

 

 

Malang, 2007

 

 

 

 

INGINMU, MIMPI

 

Apa yang kau arti di kepulan asap, jarum fatamorgana, ruap soda, dan musik yang melecut darah

                Melayang, melayang, dan terus melayang sampai menemu entah

Dan denyut jammu terasa lamban, inginmu malam tak segera menemu matahari dan tubuhmu

                Seakan berpesiar di taman-taman, kau semakin terkulai, tenggelam

Sungguh tak juga kau pahami, hidup jauh dari mimpi. Di sini duri harus kau rangkai menjadi benang

                Doa-doa syukurmu yang panjang. Kehausanlah yang kan menderamu, ketika belenggu

Fatamorgana memborgolmu sepanjang waktu. Dan kunci yang kaucari, lama berkarat di laci hati.

               

 

 

Malang, 2007

 

 

 

 

DAN INI CINTA TUHAN

 

Dan ini cinta Tuhan, sungguh cinta Tuhan

Takkan berkurang jika kita bagi-bagi

Malah akan bersemi, terus bersemi

Mengakar dalam menembus setiap hati

 

Cinta selalu menyemai damai

Cinta selalu mengulum senyum

Cinta membawa payung keteduhan

Cinta memberi rengkuhan harapan

 

Cinta ini bukan milik kita

Hanya milik Tuhan, hanya milik Tuhan

Beribu tafsir, takkan bermakna

Jika hatimu tak juga menyemainya

Bagi kepahitan yang mekar di pabrik-pabrik,

Terminal-terminal, rumah-rumah kardus,

Helaan napas tukang becak, kuli bangunan,

Pengamen jalanan, pelacur, gelandangan,

Dan korban kerakusan

 

Cinta ini milik Tuhan, hanya milik Tuhan

Taburlah di ladang-ladang persahabatan

Dan setiap hati akan mewangi

Dipenuhi kuntum-kuntum melati

 

 

Cinta ini milik Tuhan, selalu milik Tuhan

kan mekar sepanjang musim, sepanjang napas

mengalir di muara-muara harapan

bagi bayi-bayi yang terbuang

juga kemanusiaan yang tertikam

 

 

Ranumkan cintamu dalam peraman kesetiaan

yang didewasakan oleh badai dan gelombang

tak perlu patah tiang, di pantai Dia menanti

dengan membawa gerimis awal musim

menghapus kedahagaan sepanjang kemarau

menyemai padang hijau bagi belalang dan kumpu-kumpu

simponi kalbu melagu di antara desah dan tatapan

: cinta ini memastikan kehadiranmu!

 

 

 

 

2007

 

Beri tanggapan

Your response: