KEYAKINANKU
Keyakinanku padang yang luas
Tempat bagi para gembala melepas lelah
Sambil mendendangkan lagu rumput,
Juga kupu-kupu yang mengecap madu.
Keyakinanmu sejengkal tanah
Tempat berpijak dalam kendangkalan
Sebagai bocah kecil kau merasa paling benar
Dan dadamu selalu membusung saat bertemu
Dengan mereka yang tak sejalan
Keyakinanku seteguk air
Yang mengalir bersama pagi
Dan segera tercipta muara
Reda gelisah kemarau panjang
Mereka memandangku dengan penuh cinta
Dan merengkuhku dalam nyanyian mawar
Keyakinanku tanah berhumus
Tempat bagi bunga-bunga dan pepohonan
Bercengkerama dengan angin, juga
Menebar benih yang kan berbuah
Pada cuaca yang bersih,penuh senyuman
Februari 2000
CERITA DI PENGADILAN
Sungguh saya tidak mencuri, kata terdakwa
Dengan suara mengiba serupa anak-anak
Yang memaksa ibunya agar dibelikan gula-gula
Saya hanya diberi kesempatan dan diresmikan
Dengan surat-surat keputusan, suara datar
Mengalir di antara palu, kitab undang-undang,
Bendera-bendera, juga bangku-bangku
Ada geram tertahan mengapung di udara
Mengeras muka tak sampai pada yang terdamba
Tak terelakkan satu per satu membahasakan
Pikir dan rasa, palu diketuk keras berusaha
Mengatasi keliaran
Saudara-saudara, ini pengadilan, bukan pasar
Harap saudara bisa mengendalikan perasaan, kata hakim
Sambil membetulkan letak kacamatanya, ketegangan
Terbaca lewat kerut dahi, juga muka yang basah
Panggil saksi, perintah hakim membuang gelisah
Benar, dia bukan pencuri, kata saksi setelah
Bersumpah atas nama kepercayaan dan keyakinan
Suaranya semanis jagung bermentega
Dia hanya mengikuti arus, yang dideraskan
Beratus-ratus, bahkan beribu-ribu kaki, tangan,
Jantung, hati, perut, darah, dan otak
Dia berputar dalam lingkaran, tapi
Bukan lingkaran itu sendiri
Dia tidak menciptakan keserakahan, tapi
Diciptakan oleh keserakahan
Cukup, saudara saksi, kata penuntut umum
Saudara tidak diperkenankan menyampaikan kesimpulan
Dalih-dalih yang sudara sampaikan
Seakan menggiring pada satu muara
: kita adalah pencuri itu sendiri,
bukan terdakwa ini!
Serentak semua terdiam, jam berdetak lamban
Terasa sesak untuk bernapas, wajah-wajah
Terpaku di dingin lantai, labirin ini
Tak tentu ujungnya
Saudara-saudara, sidang ini ditunda
Lima tahun lagi, hakim bersuara
Dengan penuh beban
September 1999
PENDIDIKAN BUKANLAH….
Pendidikan bukanlah cambuk
Yang siap dilecutkan pada
Harimau, gajah, dan kuda
Dalam arena sirkus dan hiburan
Pendidikan bukanlah pistol
Yang siap ditembakkan
Pada kepa pesakitan
Hingga mengerang dan
Mengiba ketakutan
Pendidikan bukanlah satpam
Yang siap menghardik dengan kejam
Peminta-minta dan orang tak dikenal
Tetapi,
Pendidikan adalah pintu
Yang membuka cakrawala pikiran
Agar diterangi pengetahuan
Juga kebajikan
Pendidikan adalah tangan ibu
Yang penuh kasih menuntun
Dan mengajak kita
Agar mampu berdiri dan berjalan
Dengan penuh kepercayaan
Pendidikan adalah sepercik embun
senantiasa menyejukkan setiap hati
yang gersang tak berpengharapan
Pendidikan adalah matahari
Juga kelembutan cahya bulan
Yang selalu setia menerangi kegelapan
Juga meneduhi keputusasaan jiwa
Agustus 1999
APAKAH AGAMAMU, TANYAMU
Apakah agamamu, tanyamu
Aku takkan menjawab
Kalau hanya melahirkan perdebatan,
Kebencian, dan kecurigaan
Apakah agamamu, desakmu
Masihkan perlu kautanyakan, kataku
Jika aku-kamu berawal dari nafas yang sama
Jika aku-kamu tersungkur pada akhirnya
Aku lebih mencintai hati dan bahasa ibu
Juga mata anak-anak yang jernih
Yang memberi telaga kedamaian
Bagi semua yang menatapnya
Dan mengapa kamu masih bertanya
Bukankah jabat tangan dan secercah senyuman
Lebih bermakna kau suguhkan
Dalam piring dan gelas di atas meja persaudaraan
Diam saja, renungi angin yang melintas
Dan gemersik daun-daun yang bersentuhan
Begitu dalam, sangat dalam
Perdebatan ini sungguh sia-sia
September 1999
KIBARKAN BENDERA SETENGAH TIANG
kibarkan bendera setengah tiang
saat anak-anak lahir dalam kebimbangan
menghambur di jalan, melempar kemarahan
- mereka tak tahu jalan pulang
semua cinta di rumah meranggas
ruang jiwa berdebu kehabisan cahaya –
kibarkan bendera setengah tiang
saat tangan-tangan penguasa tak punya makna
terkulai di ruang-ruang tak berdaya
suara-suara di luar mengepungnya
suara-suara di luar tak beraturan gaungnya
- beri kami cermin yang pasti
biar selembar hati ini terjaga keheningannya –
kibarkan bendera setengah tiang
sambil mengarak keranda di sepanjang jam
saat semua terselubung tirai hitam
- di mana kegelisahan diredakan
dan denyut tinggal dituai pada musimnya –
September 1999
PELAJARAN BAHASA TUHAN
masih saja bahasa Tuhan hanya
dijelmakan dalam pakaian, lilin,
buku-buku,gedung, dan doa-doa
kita pun berubah menjadi arca
yang terbuai keindahan
membius berpasang-pasang mata
tak kuasa menjadi hujan
di ujung kemarau yang membawa
hangat pisang goreng dan segelas kopi
dalam perbincangan sederhana
ya, ya bahasa Tuhan hanya
ditafsirkan sebagai surat sang pacar
serta merta lahir gelisah dan cemas
jerawat ini harus diapakan
rambut ini harus diapakan
bibir ini harus diapakan
sebatas wajah inikah pemahaman
dan kau pun tak leluasa
menggerakkan pikir dan rasa
seperti burung-burung yang menjadi dewasa
dalam asuhan angin, matahari, dan hujan
dan kau pun terpasung dalam
keyakinan yang berlebihan
terbangun dinding yang membatasi diri
sekedar menyapa dan tersenyum
sebagai sesama pengembara
yang kan kembali ke tanah semula
dengarkan dengan diam bahasa Tuhan
pahami dalam keheningan dan
kebeningan jiwa
keangkuhan inilah yang memisahkan kita
dan masihkah kita manusia?
Oktober 1999
TUHAN, ULURKAN TANGANMU
Tuhan, ulurkan tanganmu
Agar terbuka semua pintu
Yang dirimbuni semak berduri
Dan kehadiranmu hanya terpahami
Sepintas lalu, tak sampai mekar di hati
Mereka bangun dinding berbatu
Atas keyakinan, sambil berteriak:
“Aku yang paling mengerti bahasa Tuhan.”
Dan tangan-tangan tak bisa bersinggungan
Dengan mesra dan sederhana
Sambil berkaca bersama:
“Inilah wajah kelana
yang didera gelisah panjang.”
Tuhan, ulurkan tanganmu
Agar terbuka semua mata
Hingga tak sesat dalam warna-warna
Juga suara-suara
Indah tak punya makna
Dan semua kan mengerti
Tangan lembutmu kan merengkuh
Yang datang dengan kesederhanaan
Sebagai petani yang mencintai bumi
Tuhan, ulurkan tanganmu
Malang 2000
JADIKANLAH AKU
Jadikanlah aku matahari
Bila mendung mulai bergayut
Hendak mengirim badai
Bagi yang berumah di atas pasir
Jadikanlah aku bintang
Bila langkah kecurian arah
Dan pelabuhan-pelabuhan kematian cahaya
Saat musafir didera rindu
Berbagi cerita pada semua yang menunggu
Jadikanlah aku bumi
Yang sabar menerima semua
Bangkai dan harum melati
Benci dan selembar hati
Semua punya arti
Semua punya garis pasti
Oktober 1999
DUH…GUSTI, AMPUNI *
duh…gusti ampuni aku
di sekitarku masih banyak
tangan-tangan yang malu
bekerja dengan baik
mereka lebih senang menipu
segan bekerja, ingin hidup mewah
mengumbar angkara murka
menyuburkan kedurhakaan
perempuan-perempuan kehilangan
rasa malu
lelaki kehilangan rasa perwiranya
lelaki tak punya lagi lagu rindu
bagi istri dan anak di rumah
kesepian mengikis kesetiaan
banyak anak bertanya
tentang ibu dan bapaknya
duh…gusti ampuni aku
suara-suara kebenaran
terdengar sumbang di telinga
perikemanusiaan pun kian pudar
rumah suci kian disingkiri
rumah hina merajalela
perempuan jalang di mana-mana
ya…ya bakul dikatakan burung kuntul
orang salah dianggap betul
pengkhianat hidup penuh nikmat
pencuri dipuji-puji
orang-orang yang tahu jalan
kian terbelenggu tak berdaya
yang mulia kian terpenjara
dan masih ada yang mengalir tanpa muara
bahasa tuhan kian terabaikan
hujan pun turun bukan pada musimnya
di meja-meja perundingan
banyak yang mengkhianati
ilmu dan kebajikan
banyak yang mengaku-aku
di luar terlihat putih
di dalam ternyata merah dadu
mengaku suci, kesucian basa-basi
begitu mudah membuat janji
begitu mudah mengingkari
duh…gusti, hukumlah aku
di sekitarku kedamaian tak juga bersemi
banyak laknat, banyak yang sesat
anak makan bapaknya
saudara makan saudara
kawan menjadi lawan
guru menjadi seteru
antartetangga saling curiga
tak ada lagi ruang bagi hati
untuk berbicara tentang cinta
orang-orang lapar berputar-putar
sebagai gasing
yang cepat akan memangsa
yang lamban akan dimangsa
yang besar akan tersesat
yang kecil tergelincir
yang congkak mendongak
yang takut kesikut
yang nekat mendapa berkat
yang rendah diri akan tertindih
yang membabi buta semakin makmur
yang berhati-hati cuma merintih
petani-petani gigit jari
para pendusta terus berpesta
duh…gusti, siksalah aku!
Malang 1999
*) diilhami oleh ramalan Djojobojo
SELAMAT MALAM, INDONESIA
Selamat malam Indonesia
Di atas meja aku menatapmu dengan resah
Sepiring nasi lahir dari kesabaran
Sekerat ikan asin adalah pergulatan yang mengancam
Semua terolah dari rasa keibuanmu
Bagi petani dan nelayan
Yang setia menyapa dan merengkuhmu
Dan mestinya kau terpahami sebagai ibu
Yang sering kudongengkan pada anak-anak
Sebelum melintasi kota-kota yang lain
Sungai-sungaimulah yang mendenyutkan jantung mereka
Ombak-ombakmulah yang menggelora di nadi mereka
Hutan-hutanmukah yang memayungi mereka
Takkan kubiarkan mereka jadi pecundang
Dan kau memang ibu yang bijak
Berpasang-pasang tangan
Ingin memisah-misahkan anak-anakmu
Lepas dari rengkuhanmu
Kau tetap saja tersenyum
Tak mau mengumbar kepedihan
Masih saja kaumekarkan kasihmu
Dalam bulir-bulir padi
Juga kemilau embun di pucuk-pucuk daun
Selamat malam, Indonesia
Takkan kupejamkan mata
Sebelum usai mereguk keheningan
Yang kausuguhkan antara suara-suara serangga,
Bisik angin, dan jejak langkah peronda
Aku hanya bisa tersipu
Tangan ini masih saja tak mampu
Memelukmu sambil bercerita
Saat-saat manis yang lalu
Maret 2001
PEREMPUAN ITU
Perempuan itu terbatuk-batuk
Melintas di halaman, lalu mengetuk pintu
“Biarkan aku masuk, sesaat istirah
Setengah abad lewat
Aku menapaki waktu dengan rindu.”
Tangis gerimis mengikis harapan
Dan kelam dikekalkan temaran
Langit rapuh, ada yang mengaduh
Perempuan itu ya perempuan itu
Dengan tatapan yang lembab
Melewati jendela, sampai pada bukit
Yang samar-samar, berkabut
“Aku tak mengerti
setelah darah di deraskan
setelah ribuan pejuang ditulis dalam sejarah
dan setelah aku menyusui anak-anakmu
mengapa aku hendak kau tinggalkan.”
Perempuan itu tersedu
Di matanya terbayang rumah-rumah,
Anak-anak, dan hutan-hutan terbakar
Atas nama keadilan
Atas nama kemakmuran
“Permainan siapakah ini
yang terus menderaskan air mata
yang menyuburkan kekacauan
dan aku pun semakin cemas.”
Burung kulik-kulik terus memanggil malam
Menyemai gelisah di ujung-ujung ranjang
Langit retak, ada yang mendesah
Perempuan itu ya perempuan itu
Dengan tatapan yang basah
Menyusuri jengkal demi jengkal tanah
Yang sangat di kenalnya
Inilah Jawa, Sumatra, dan Irian Jaya
Yang telah menyatu dalam tubuhnya
Menjelma tangan, kaki, atau kepala
“Haruskah aku kehilangan tangan,
kaki, atau kepalaku
Jika kehadiranku sebagai ibu
Masih diperdebatkan
Dan dicurigai tak mampu
Mengasuh semuanya dalam cinta.”
Perempuan itu terbatuk-batuk lagi
Dibetulkannya letak kacamatanya
“Barangkali aku memang berlebihan
Barangkali aku yang tak mau belajar
Pada Sriwijaya, Majapahit, atau Singasari
Atau haruskan kubangunkan kembali Gajah Mada,
Muhammad Yamin, W.R. Supratman, atau Hatta
Agar ada tempat bagiku
Meredakan gelisah yang panjang.”
Maret 2001
LAGU DAMAI
Kedamaian mengalir lewat hijau bukit
Bersama siul burung yang dicumbu angin
Lalu disemaikan pada setiap petani
Di kemilau embun yang membasah
Di antara daun-daun padi yang disapa pagi
Dan senyum selalu mekar
Dalam pertemuan yang sederhana
Jauh dari perdebatan sia-sia
Penuh ketulusan yang terhidang
Dalam secangkir kopi dan sepiring pisang
: Keluarga selalu sehat-sehat saja kan?
Begitulah saling mendoakan
Kedamaian merekah bersama sapa
Sebagai matahari yang mengusap daun-daun,
Bunga-bunga, kupu-kupu, dan tanah yang basah
Dan segera tercipta tembang di setiap ruang
Lembut mengalun mengusap jiwa
Memayungi setiap hati, tiada benci
Nyanyikanlah selalu tembang damai
Di setiap jam, juga setiap jejak
Agar tanganmu tak selalu ragu
Terulur bagi semua yang perlu genggaman
Dan memberi kepastian bagi yang didera pedih
Kedamaian terus mengalir
Bersama gemiricik air yang bening
Yang memberi harapan bagi semua
Yang lama dibayangi kemarau, juga keputusasaan
Nyaris terbantai dalam kelam
Dan tersungkur kehilangan arah
: Yakinlah, Tuhan selalu menjaga setiap hati !
Maret 2001
NYANYIAN POLITIKUS DAN BURUNG
Lagu kemakmuran mana yang kaudendangkan
Air mata masih menderas dan beribu-ribu mata kuyu
Melata di lampu-lampu merah
Terusir dari pabrik-pabrik yang sekarat
Lalu terbujur di kamar-kamar pengap
Ditimbuni harapan yang nyaris berkarat
Ya…ya aku mendengar merdu suaramu
Sebagai nyanyian burung
Yang digantungkan di langit-langit rumah
Atau digantang di arena-arena
Larut dalam gemuruh tepukan,
Juga sorak-sorai mereka yang larut dalam alunan suara
Dan setelah semua puas
Kau pun mendapat bendera-bendera tanda kemenangan
Sebagai burung kau selalu mengagumi warna bulumu
Di koran-koran dan televisi keindahanmu menjadi berita selalu
Dan kau pun tak malu-malu mencakar-cakar dan mematuk-matuk
Secara duam-diam semua yang menghadangmu
Dan kau pun semakin samar
Kau burung pengicau atau burung pemangsa
Ya…ya hanya suaramukah yang kau tebarkan
Dan bagaimana dengan ranting-ranting yang telah memberimu kenyamanan
Untuk bersarang
Juga rumput-rumput yang telah membernaskan biji-bijian
Dengan tulus sepanjang musim
Dan juga di mana terima kasihmu
Pada burung-burung lain yang tak berbulu indah dan bersuara merdu
Yang telah menyempurnakan kehadiranmu
Lagu keadilan mana yang kau tembangkan
Kalau semua mata dibidik kecemasan
Dan hukum berdebu di buku-buku
Tersisa keliaran yang jauh dari hati
Masihkah kau terus berkicau
Tanpa perlu memberi kepastian?
Malang, 2001
AMSAL SEBUAH POHON
Kita hanyalah satu pohon
Yang mengakar pada tanah leluhur
Dan minum dari telaga
Tempat adam sempurnakan luka
Sebagai pohon semua punya makna
Akar, batang, dahan, dan ranting
Juga daun selalu sejalan
Untuk memekarkan bunga-bunga
Dan meranumkan buah
Tak perlu merasa menjadi lebih:
Akulah akar aku lebih berarti
Akulah batang aku lebih berarti
Akulah dahan aku lebih berarti
Akulah ranting aku lebih berarti
Akulah daun aku lebih berarti
Masihkah kita menjadi pohon
Jika kehilangan akar, batang,
Dahan, ranting, dan daun
Sebagai pohon tak perlu berselisih
Wangikan saja bunga-bunga
Dan terperam buah yang manis
Yang melegakan semua yang dahaga
Sebagai pohon tak hanya diam
Lalu kita dirobohkan
Dan dibiarkan berlumut dan berjamur
Tanpa kenangan
Maret 2001
SURAT UNTUK ANAK-ANAKKU
Anak-anakku, keprihatinanku tergambar di cakrawala
Mengelabu bersama gelisah yang dibawa gerimis
Juga burung-burung pipit yang tak lagi punya sarang
Yang selalu dibayangi kelam
Dan masih saja ada yang ingin membangun menara-menara
Di atas air mata dan darah yang merimba
Juga pecahan-pecahan jiwa yang kehilangan ayah dan bunda
Yang meratap-ratap, memanggil-manggil tanah kelahiran:
Ini tanahku! Ini napasku! Mengapa aku harus terpisah?
Anak-anakku, maafkan kerapuhan tanganku
Yang tak kuasa mengetuk pintu-pintu
Penuh dengan keinginan gelap
Yang terus membayang di setiap jejak
Dan yang kauwarisi hanyalah puing-puing
Maret 2001
SAJAK MULUT
Mulutmu kecil
Sungguh kecil
Masihkah kau mengunyah semesta
Bagi laparmu
Yang tak kenyang
Kenyang
Mulutmu kecil
Amat kecil
Mangsa apa lagi kau
Hutan-hutan telah tandas
Ikan-ikan dilaut telah terkuras
Tanah-tanah pertanian amblas
Yang tersisa lagu lapar
Di mulut-mulut gang
Lampu-lampu merah
Bagi kenyangmu
Yang tak kenyang
Kenyang
2007
APA YANG KAUBACA
Apa yang kaubaca
Saat rabun menemu samar
Dan hidangan di meja
Tidak terkoyak gigimu yang mulai tanggal
Malam-malam yang beku
Terasa mencambuki tulangmu
Kulit kerutmu
Terasa dirimbuni jarum
Sungguh mana yang kaukekalkan
Saat sahabat dan kerabat
Sudah sampai, sudah kembali
Di depan pintu tertulis selalu:
Waktu selalu menunggu!
Sungguh mana yang kaubanggakan
Saat semua merapuh
Dan sayap senja merengkuhmu
Dalam siulan sunyi yang panjang
2007
BUNGA DI TAMAN INI WARNA-WARNI
Bunga di taman ini warna-warni
Harumnya memanggil kupu-kupu
Juga petualang yang rindu hati
Rindu senyum kanak-kanak
:Begitu sederhana, begitu murni
Akankah warna-warni yang asri
Kauremas dalam keangkuhan
yang tersisa hanya sabana
tergambar hijau semata
sebatas inikah membaca manusiamu
Bunga di taman ini warna-warni
Semua mekar dalam asuhan matahari
Dan meranum buah bagi arti
Tak ada yang sia-sia, tak ada
: Pengetahuanmu tak cukup mengadili
Juru Taman itu lebih mengenali
Antara ilalang dan melati
2007
SAKRAMENKU
Sakramenku perempuan tua yang teriak ’puk…krupuk”
Dan kaki rentanya masih mencintai hidup
Yang bertungku di kelopak matanya yang segelombang ombak
Dan aku pun terjaring cinta hidupnya yang menderas
Bersama parit-parit waktu di cekung pipinya
Sakramenku lelaki tua yang memainkan tambur darahnya
Bagi istri dan cucu, yang menderas dari telaga jiwanya
Lalu senyum mekar, saat kubalas dengan jabat tangan
Dan selembar cinta yang kurajut seharian
2007
LITANI INDONESIA
Indonesia siapa yang indonesia
Cintailah yang Cinta
Indonesia siapa yang indonesia
Satulah yang Satu
Indonesia, jamrud nusa
Indonesia, suaka satwa
Indonesia, muara mina
Indonesia, selendang bianglala
Indonesia, bunda mahatma
Indonesia, rimba persada
Indonesia, samudra manikam
Indonesia, intan jelita
Indonesia, adiratna
Indonesia, bunga rampai budaya
Indonesia, persada katulistiwa
Indonesia, dermaga buana
Indonesia, kusuma aksara
Indonesia, senyum semesta
Indonesia, rengkuhan bagaskara
Indonesia, pangkuan permadani
Indonesia, mahligai pertiwi
Indonesia, kecapi bidadari
Indonesia, serimpung gunung
Indonesia, ibu penjuru
Indonesia siapa yang Indonesia
Merdekalah yang Merdeka
Indonesia siapa yang Indonesia
Cerminlah dengan Tanya
Ya Sang Mahacinta, ampunilah setiap jiwa
yang tak juga merajut syukur bagi semua
sepanjang detak, sepanjang kelak
dan selalu tak juga setia
bagi CintaMu yang menderas senantiasa
Malang, 2007
INGINMU, MIMPI
Apa yang kau arti di kepulan asap, jarum fatamorgana, ruap soda, dan musik yang melecut darah
Melayang, melayang, dan terus melayang sampai menemu entah
Dan denyut jammu terasa lamban, inginmu malam tak segera menemu matahari dan tubuhmu
Seakan berpesiar di taman-taman, kau semakin terkulai, tenggelam
Sungguh tak juga kau pahami, hidup jauh dari mimpi. Di sini duri harus kau rangkai menjadi benang
Doa-doa syukurmu yang panjang. Kehausanlah yang kan menderamu, ketika belenggu
Fatamorgana memborgolmu sepanjang waktu. Dan kunci yang kaucari, lama berkarat di laci hati.
Malang, 2007
DAN INI CINTA TUHAN
Dan ini cinta Tuhan, sungguh cinta Tuhan
Takkan berkurang jika kita bagi-bagi
Malah akan bersemi, terus bersemi
Mengakar dalam menembus setiap hati
Cinta selalu menyemai damai
Cinta selalu mengulum senyum
Cinta membawa payung keteduhan
Cinta memberi rengkuhan harapan
Cinta ini bukan milik kita
Hanya milik Tuhan, hanya milik Tuhan
Beribu tafsir, takkan bermakna
Jika hatimu tak juga menyemainya
Bagi kepahitan yang mekar di pabrik-pabrik,
Terminal-terminal, rumah-rumah kardus,
Helaan napas tukang becak, kuli bangunan,
Pengamen jalanan, pelacur, gelandangan,
Dan korban kerakusan
Cinta ini milik Tuhan, hanya milik Tuhan
Taburlah di ladang-ladang persahabatan
Dan setiap hati akan mewangi
Dipenuhi kuntum-kuntum melati
Cinta ini milik Tuhan, selalu milik Tuhan
kan mekar sepanjang musim, sepanjang napas
mengalir di muara-muara harapan
bagi bayi-bayi yang terbuang
juga kemanusiaan yang tertikam
Ranumkan cintamu dalam peraman kesetiaan
yang didewasakan oleh badai dan gelombang
tak perlu patah tiang, di pantai Dia menanti
dengan membawa gerimis awal musim
menghapus kedahagaan sepanjang kemarau
menyemai padang hijau bagi belalang dan kumpu-kumpu
simponi kalbu melagu di antara desah dan tatapan
: cinta ini memastikan kehadiranmu!
2007