Oleh: Lindung Ratwiawan | Juli 25, 2008

PUISI LEBIH ABADI: SAY IT WITH POEMS

Dalam salah satu puisinya Chairil Anwar mengekspresikan semangatnya lewat lirik dahsyatnya “aku mau hidup seribu tahun lagi.” Sementara itu di lereng gunung Merapi Mbah Maridjan berteriak “rosa…rosa”, sambil tak lupa menenggak salah satu produk jamu pendongkrak stamina. Itu yang membuat Chris Jhon ‘Sang Naga’ memiliki pukulan yang mematikan, yang ditakuti oleh lawan-lawannya.

Semangat…ya semangat yang perlu kita miliki jika ingin mengawali sesuatu. Seperti gelombang semangat yang dideburkan oleh seorang nenek yang berusia 70 tahunan lebih, yang sering menyusuri jalan di depan rumah saya, sambil berteriak “Puk…Krupuk!” Luar biasa.

Jadi, mengapa kita harus sinis terhadap puisi, yang sebenarnya bisa digunakan sebagai bacaan yang sehat, yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi pembacanya. Paling tidak kita bisa meyakini bahwa puisi bisa digunakan sebagai media untuk mengasah budi dan pekerti kita.

Alangkah indahnya, jika para pejabat atau anggota DPR sebelum mengawali sidang atau menyampaikan orasinya membacakan puisi atau memperdengarkan lagu-lagu semacam yang tulis Ebiet G. Ade, misalnya: “Untuk Kita Renungkan”:

Kita mesti telanjang

dan benar-benar bersih

suci lahir dan di dalam batin

Tengoklah ke dalam

sebelum bicara

singkirkan debu yang masih

Wah…jika syair-syair jernih semacam ini selalu diperdengkarkan atau menjadi lagu wajib dan diresapkan dalam hati, menjadi tongkat tuntunan, niscaya tidak perlu ada KPK (Komisi Pemberantas Korupsi. Tak perlu ada ‘operas sabun’ yang sangat dramatis dan melodramatis yang mensinetronkan Jaksa Urip dan Artalita.

Nah…bukankah puisi lebih abadi? Buktinya bisa berkecambah jadi tuntunan moral di hati siapa pun, yang mampu dan mau menangkap dengan hati. Jika memang demikian, masih beranikah menganggap bahwa puisi itu tidak bernilai? Untuk itu, mengapa kita harus takut menulis puisi? Tulislah puisi. Tidak perlu dibebani dengan teori-teori. Tulislah. Awali dari yang menggelisahkan hati. Tidak ada alasan tidak bisa. Kita ini bukan mesin, kita punya hati. Pasti kita bisa berpuisi!!!!

Oleh: Lindung Ratwiawan | Juli 25, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori